Rabu, 28 September 2011
Aku dan Menulis Artikel Islam
Oleh: Nurul Fauziah
Menulis bagiku sudah seperti menghirup oksigen, jika tidak menulis mungkin aku akan megap-megap kekurangan oksigen. Begitu juga ketika aku menemukan kisah Marwa El-Sharbaini dalam buku autobiografinya Oki Agustina, Melukis Pelangi (Mizan, 2011).
Marwa El-Sharbaini adalah muslimah asal Mesir yang hijrah ke Jerman karena mengikuti suaminya kuliah di Jerman. Marwa bertetangga dengan seorang islamofobia bernama Alex. Alex tidak suka dengan Marwa yang berjilbab, ketidaksukaannya menyebabkan Marwa gerah. Marwa melaporkan Alex ke pengadilan. Saat sidang hendak dimulai, Alex menyerang Marwa dengan sebilah pisau lalu menikamnya. Kejadian itu benar menyakiti hati rakyat Mesir khususnya, ditetapkanlah hari kematian Marwa 1 Juli 2009 sebagai Hari Hijab Internasional.
Kisah Marwa membawaku untuk menuliskan artikel islam pertama kali dan menyodorkannya ke media. Aku pikir kisah Marwa tidak banyak yang mengetahui karena media Jerman seolah sudah sepakat untuk tidak menyebarluaskannya ke publik demi menghindari terciptanya opini publik. Maka, aku susun strategi, saat itu aku selesai baca buku Melukis Pelangi sekitar awal April 2011, aku pikir artikel islamnya aku tulis sebulan sebelum bulan Juli supaya momentumnya dapat dan redaktur dapat punya waktu banyak membaca artikelku yang pertama itu.
April pun berlalu, masuk bulan Mei, lalu Juni, dan sukses sudah bahwa aku lupa dengan niatku tiga bulan lalu. Disela-sela kegiatan kampus yang berjibun, kembali kisah Marwa merasuk alam pikiranku. Juli makin mendekat. Memang selama tiga bulan lalu, artikel yang menyangkut berita Marwa sudah ku search, materi tentang jilbab sudah aku koleksi, dan sedikit-sedikit sudah aku baca. Kerangka karangan bahkan blueprint-nya sudah kucetak di pikiranku, mulai dari bagaimana aku harus membuka tulisanku dengan lead yang menggigit, subbab yang akan aku sertai di dalamnya apa-apa saja, dan ending artikelku nanti. Namun, itu semua masih dalam pikiranku belum satu huruf pun yang aku tuliskan ke dalam artikel islamku, sementara waktu terus melaju. Aku takut jika aku telat mengirimkan tulisanku dan semuanya akan menjadi ‘basi’ sudah tidak enak lagi dibaca. Aku galau.
Sampai detik-detik terakhir bulan Juni, aku masih bergelut dengan pikiranku, padahal tidak ada susahnya jika aku menuliskan semuanya. Sekejap juga sudah jadi, tapi entah kenapa, kenapa semuanya terkesan jadi berat. Berat menurutku karena ini adalah artikel islam, ibarat aku bercakap-cakap, bahwa apa yang aku sampaikan harus juga aku laksanakan, aku tidak mau termasuk golongan orang munafik, lalu tulisanku jika sudah jadi akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah, dan tema tulisanku tentang jilbab. Akhirnya segala kegalauan aku selesaikan dengan sholat, aku mohon pada Allah agar membantuku dalam menuliskan artikel ini, aku meminjam tanganNya. Dan sehabis solat shubuh, aku menuju ke meja kerjaku dan mulai mengikhlaskan diri untuk menulis artikel islamku yang pertama, aku yakin Allah membantuku dengan meminjamkan tanganNya.
Jam 11 pagi di hari selasa, selesai sudah artikelku dengan judul Refleksi Revolusi Jilbab. Judul artikelku pun punya cerita juga, cukup sulit menemukan apa judul yang tepat, akhirnya setelah baca, baca, dan baca lagi, aku temukan sejarah revolusi jilbab yang pernah terjadi di Indonesia bahkan di belahan dunia muslim lainnya, bagaimana dulu susahnya para muslimah mempertahankan hijabnya, bahkan sampai di tahun 2011 yang aku kira masyarakatnya sudah berpikiran maju, namun ternyata masih ada yang mengidap islamofobia akut. Maka, benarlah firman Allah bahwa sampai kapanpun ‘mereka’ tidak akan pernah senang dengan islam. Sampailah aku pada kesimpulan bahwa calon artikelku ini nantinya akan bermuara pada flashback awal mula revolusi jilbab dan mengaitkannya dengan kisah Marwa bahwa walau revolusi sudah berlalu namun masih ada muslimah di belahan bumi ini yang hijabnya masih dipermasalahkan. Refleksi Revolusi Jilbab.
Artikelku ku baca lagi sampai benar-benar tidak ada yang kurang dan terlewatkan. Aku buka lead artikelku dengan menceritakan secara singkat kejadian yang menimpa Marwa di pengadilan Jerman, lalu flashback masa revolusi jilbab juga secara singkat, kemudian beralih ke subjudul. Subjudulku yang pertama menuliskan dan mengajak muslimah agar bangga dengan jilbabnya, lalu masuk ke subjudul yakni menyinggung tentang fenomena muslimah yang salah kaprah dalam berjilbab, berjilbablah secara utuh. Dan aku berusaha menutup tulisan dengan kalimat refleksi sebagai pengingat diri khususnya dan mengingatkan pembaca pada umumnya.
Artikel itu langsung ku kirim pada hari itu juga. Betapa leganya ketika laporan dari gmail memberitahukan ‘your message has been sent’, lega luarbiasa. Alhamdulillah.
Menanti hari Jum’at seperti ayah dan emakku menanti kelahiranku, dag dig dug. Sehabis solat subuh pada hari Jumat pagi yang berkah, aku langsung duduk manis di depan netbuk, dan langsung berselancar di dunia maya tak lupa juga mengintip situs analisadaily.com. Alhamdulillah, artikelku terbit di rubrik Mimbar Islam, Harian Analisa. Aku berharap semoga tulisanku mampu memberi manfaat untuk orang yang membaca. Semoga. Insyallah. Begitulah proses kreatif nan panjang hanya untuk sebuah kegelisahan, kegalauan, dan salah satu usahaku dalam menebar dakwah melalui tulisan.
*Penulis adalah penulis buku Gue Gak Cupu (GPU,2010) yang masih tercatat sebagai mahasiswa IAIN SU, Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Bahasa Inggris dan bergiat di FLP Sumut
source : http://www.annida-online.com/artikel-3916-aku-dan-menulis-artikel-islam.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar