Dunia Menulis
Rabu, 19 Oktober 2011
Ayo Menulis
ini dunia dimana kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau,
kamu bisa mengekspresikan semua perasaan kamu, curahan hati kamu, semua yang kamu pikirkan
ya, disinilah
kamu bisa berkarya
kamu bisa memilih
kamu bisa memberikan sebuah penghargaan kepada seseorang
atau menjatuhkan orang itu
menulis itu luas,
seluas yang kamu mau
sebisa yang kamu inginkan
tak akan ada yang membatasi bagaimana kamu menulis
tulis apa yang kamu inginkan
dan rasakan getarannya
berikan manfaat bagi seluruh dunia
dengan tulisanmu,
ambil pensil
mari berkarya
kamu bisa mengekspresikan semua perasaan kamu, curahan hati kamu, semua yang kamu pikirkan
ya, disinilah
kamu bisa berkarya
kamu bisa memilih
kamu bisa memberikan sebuah penghargaan kepada seseorang
atau menjatuhkan orang itu
menulis itu luas,
seluas yang kamu mau
sebisa yang kamu inginkan
tak akan ada yang membatasi bagaimana kamu menulis
tulis apa yang kamu inginkan
dan rasakan getarannya
berikan manfaat bagi seluruh dunia
dengan tulisanmu,
ambil pensil
mari berkarya
Rabu, 28 September 2011
Tekhnik Menulis Resensi Buku
~dan…kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~
(Paulo Coelho dalam novel “Di Tepi Sungai Piedra”)
Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, biasanya mereka tidak akan terjebak dalam pola berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Dalam kehidupan nyata juga berpeluang besar punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.
Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,
1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, dalam level praktis keseharian, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Disisi lain, seorang pembaca juga akan melakukan pembelajaran yang sama. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan “Oooo buku ini begini…. begitu” setelah membaca karya resensi.
3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi tetap bisa mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.
4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.
5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.
Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;
A. Tahap Persiapan
1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus. Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Tidak berarti membatasi atau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.
2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan hanya sekedar untuk berbagi ilmu, bukan untuk mendapatkan honor) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).
3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;
Judul Karya Resensi
Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :
B. Tahap Pengerjaan
1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.
2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;
• Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).
• Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”.
• Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.
C. Tahap Publikasi
1. Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.
2. Menyertakan cover halaman depan buku.
3. Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.
Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
*Yons Achmad. Humas FLP Pusa
source : http://forumlingkarpena.net/tips_menulis/read/teknik_menulis_resensi_buku/
Ratapan Hati
langit debu masih saja membisu
sekalipun dunia telah menjadi gerah namun tetap begitu
aku menatap semuanya
menjadi saksi bagaimana dunia membahana
seperti engkau yang selalu tertawa
tiada peduli semuanya
terus tertawa,
mata itu masih menunjukkan kepayahannya
dan kesedihan menggeluti nadinya
aku masih menatap takdapat bergerak
karena aku bukan penguasa rakyat
-silmykaaffah 290911
sekalipun dunia telah menjadi gerah namun tetap begitu
aku menatap semuanya
menjadi saksi bagaimana dunia membahana
seperti engkau yang selalu tertawa
tiada peduli semuanya
terus tertawa,
mata itu masih menunjukkan kepayahannya
dan kesedihan menggeluti nadinya
aku masih menatap takdapat bergerak
karena aku bukan penguasa rakyat
-silmykaaffah 290911
Aku dan Menulis Artikel Islam
Oleh: Nurul Fauziah
Menulis bagiku sudah seperti menghirup oksigen, jika tidak menulis mungkin aku akan megap-megap kekurangan oksigen. Begitu juga ketika aku menemukan kisah Marwa El-Sharbaini dalam buku autobiografinya Oki Agustina, Melukis Pelangi (Mizan, 2011).
Marwa El-Sharbaini adalah muslimah asal Mesir yang hijrah ke Jerman karena mengikuti suaminya kuliah di Jerman. Marwa bertetangga dengan seorang islamofobia bernama Alex. Alex tidak suka dengan Marwa yang berjilbab, ketidaksukaannya menyebabkan Marwa gerah. Marwa melaporkan Alex ke pengadilan. Saat sidang hendak dimulai, Alex menyerang Marwa dengan sebilah pisau lalu menikamnya. Kejadian itu benar menyakiti hati rakyat Mesir khususnya, ditetapkanlah hari kematian Marwa 1 Juli 2009 sebagai Hari Hijab Internasional.
Kisah Marwa membawaku untuk menuliskan artikel islam pertama kali dan menyodorkannya ke media. Aku pikir kisah Marwa tidak banyak yang mengetahui karena media Jerman seolah sudah sepakat untuk tidak menyebarluaskannya ke publik demi menghindari terciptanya opini publik. Maka, aku susun strategi, saat itu aku selesai baca buku Melukis Pelangi sekitar awal April 2011, aku pikir artikel islamnya aku tulis sebulan sebelum bulan Juli supaya momentumnya dapat dan redaktur dapat punya waktu banyak membaca artikelku yang pertama itu.
April pun berlalu, masuk bulan Mei, lalu Juni, dan sukses sudah bahwa aku lupa dengan niatku tiga bulan lalu. Disela-sela kegiatan kampus yang berjibun, kembali kisah Marwa merasuk alam pikiranku. Juli makin mendekat. Memang selama tiga bulan lalu, artikel yang menyangkut berita Marwa sudah ku search, materi tentang jilbab sudah aku koleksi, dan sedikit-sedikit sudah aku baca. Kerangka karangan bahkan blueprint-nya sudah kucetak di pikiranku, mulai dari bagaimana aku harus membuka tulisanku dengan lead yang menggigit, subbab yang akan aku sertai di dalamnya apa-apa saja, dan ending artikelku nanti. Namun, itu semua masih dalam pikiranku belum satu huruf pun yang aku tuliskan ke dalam artikel islamku, sementara waktu terus melaju. Aku takut jika aku telat mengirimkan tulisanku dan semuanya akan menjadi ‘basi’ sudah tidak enak lagi dibaca. Aku galau.
Sampai detik-detik terakhir bulan Juni, aku masih bergelut dengan pikiranku, padahal tidak ada susahnya jika aku menuliskan semuanya. Sekejap juga sudah jadi, tapi entah kenapa, kenapa semuanya terkesan jadi berat. Berat menurutku karena ini adalah artikel islam, ibarat aku bercakap-cakap, bahwa apa yang aku sampaikan harus juga aku laksanakan, aku tidak mau termasuk golongan orang munafik, lalu tulisanku jika sudah jadi akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah, dan tema tulisanku tentang jilbab. Akhirnya segala kegalauan aku selesaikan dengan sholat, aku mohon pada Allah agar membantuku dalam menuliskan artikel ini, aku meminjam tanganNya. Dan sehabis solat shubuh, aku menuju ke meja kerjaku dan mulai mengikhlaskan diri untuk menulis artikel islamku yang pertama, aku yakin Allah membantuku dengan meminjamkan tanganNya.
Jam 11 pagi di hari selasa, selesai sudah artikelku dengan judul Refleksi Revolusi Jilbab. Judul artikelku pun punya cerita juga, cukup sulit menemukan apa judul yang tepat, akhirnya setelah baca, baca, dan baca lagi, aku temukan sejarah revolusi jilbab yang pernah terjadi di Indonesia bahkan di belahan dunia muslim lainnya, bagaimana dulu susahnya para muslimah mempertahankan hijabnya, bahkan sampai di tahun 2011 yang aku kira masyarakatnya sudah berpikiran maju, namun ternyata masih ada yang mengidap islamofobia akut. Maka, benarlah firman Allah bahwa sampai kapanpun ‘mereka’ tidak akan pernah senang dengan islam. Sampailah aku pada kesimpulan bahwa calon artikelku ini nantinya akan bermuara pada flashback awal mula revolusi jilbab dan mengaitkannya dengan kisah Marwa bahwa walau revolusi sudah berlalu namun masih ada muslimah di belahan bumi ini yang hijabnya masih dipermasalahkan. Refleksi Revolusi Jilbab.
Artikelku ku baca lagi sampai benar-benar tidak ada yang kurang dan terlewatkan. Aku buka lead artikelku dengan menceritakan secara singkat kejadian yang menimpa Marwa di pengadilan Jerman, lalu flashback masa revolusi jilbab juga secara singkat, kemudian beralih ke subjudul. Subjudulku yang pertama menuliskan dan mengajak muslimah agar bangga dengan jilbabnya, lalu masuk ke subjudul yakni menyinggung tentang fenomena muslimah yang salah kaprah dalam berjilbab, berjilbablah secara utuh. Dan aku berusaha menutup tulisan dengan kalimat refleksi sebagai pengingat diri khususnya dan mengingatkan pembaca pada umumnya.
Artikel itu langsung ku kirim pada hari itu juga. Betapa leganya ketika laporan dari gmail memberitahukan ‘your message has been sent’, lega luarbiasa. Alhamdulillah.
Menanti hari Jum’at seperti ayah dan emakku menanti kelahiranku, dag dig dug. Sehabis solat subuh pada hari Jumat pagi yang berkah, aku langsung duduk manis di depan netbuk, dan langsung berselancar di dunia maya tak lupa juga mengintip situs analisadaily.com. Alhamdulillah, artikelku terbit di rubrik Mimbar Islam, Harian Analisa. Aku berharap semoga tulisanku mampu memberi manfaat untuk orang yang membaca. Semoga. Insyallah. Begitulah proses kreatif nan panjang hanya untuk sebuah kegelisahan, kegalauan, dan salah satu usahaku dalam menebar dakwah melalui tulisan.
*Penulis adalah penulis buku Gue Gak Cupu (GPU,2010) yang masih tercatat sebagai mahasiswa IAIN SU, Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Bahasa Inggris dan bergiat di FLP Sumut
source : http://www.annida-online.com/artikel-3916-aku-dan-menulis-artikel-islam.html
first post
bismillahirrohmanirrohim,
ini first postku di blog baru yang disuruh pak lilik buat tugas TIK, tapi disini namanya theworldwritting, yaah pengennya blog ini bener-bener isinya tentang tulisan, hehey
see ya, semoga bener-bener dilaksanain haha, ohiya mampir ke blog aku yang sebelumnya ya, just-silmiky.blogspot.com
Langganan:
Komentar (Atom)






